Social Icons

Pages

22 Nov 2011

ASPEK-ASPEK PEMBENTUKAN PERILAKU DAN KEBEBASAN SEBAGAI SALAH SATU FAKTOR KEBEBASAN DAN TANGGUNG JAWAB



MAKALAH

ASPEK-ASPEK PEMBENTUKAN PERILAKU DAN KEBEBASAN
SEBAGAI SALAH SATU FAKTOR KEBEBASAN DAN TANGGUNG JAWAB

Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah                        : ILMU AKHLAK
Dosen Pengampu            : Muhammad Hufron, M.Si

Disusun Oleh
Kelompok 3

1.       SUNARTI                                      (2021 111 243)
2.       MIFTAKHUL JANAH                 (2021 111 244)
3.       NAFROTUL IZZA                        (2021 111 245)
4.       MAGHFIROH                             (2021 111 246)

Kelas F

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2011

KEBEBASAN DALAM ARTI POSITIF DAN NEGATIF
PROSPEKTIF DAN RETROSPEKTIF KEBEBASAN DAN TANGGUNG JAWAB

PENDAHULUAN

“KEBEBASAN” dan “TANGGUNG JAWAB” seolah-olah merupakan pengertian kembar. Terdapat hubungan timbal balik antara dua pengertian ini, sehingga orang yang mengatakan “manusia itu bebas” dengan sendirinya menerima juga “manusia itu bertanggung jawab”.
Sebaliknya, jika kita bertolak dari pengertian ‘tanggung jawab” kita selalu turut memaksudkan juga “kebebasan”.
Tidak mungkin kebebasan (setidak-tidaknya kebebasan dalam arti yang sesungguhnya) tanpa tanggung jawab dan tidak mungkin tanggung jawab tanpa kebebasan.
            Memang benar, tidak jarang kita mendengar orang berbicara tentang “kebebasan yang bertanggung jawab” tetapi sebenarnya ungkapan itu merupakan suatu tautology, karena pengertian yang satu sudah terkandung dalam pengertian yang lain. Kebersangkutan antara dua pengertian ini akan menjadi lebih jelas dalam analisa yang akan diadakan tentangnya. Dalam hal ini kita membahas tentang kebebasan dahulu, lalu disusul dengan uraian tentang tanggung jawab, namun dengan tetap menyadari bahwa kedua pengertian tersebut tidak dapat terpisah-pisahkan.






PEMBAHASAN

A.      KEBEBASAN
Sebenarnya tidak ada munusia yang tidak tahu apa itu kebebasan, karena kebebasan merupakan kenyataan yang akrab dngan kita semua. Dalam hidup setiap orang kebebasan adalah suatu unsur hakiki. Kita semua mengalami kebebasan, justru karena kita manusia.[1]
            Ada orang yang menyalah artikan kebebasan, sehingga mereka bisa berbuat sekehendak hati tanpa mengindahkan norma-norma yang ada. Bahkan tidak jarang tingkah laku mereka itu mengganggu ketertiban umum dan merampas hak orang lain. Lebih jauh lagi kebebasan yang tidak disertai rasa tanggung jawab itu bisa mencelakakan diri sendiri.[2]
Disebut bebas apabila kemungkinan-kemungkinan untuk bertindak tdak dibatasi oleh suatu paksaan atau keterkaitan kepada orang lain.[3]
Kebebasan bisa dimengerti sebagai “kebebasan dari …..”  dan “kebebasan untuk ….” secara spontan kebebasan dimengerti sebagai “terlepas dari tekanan atau paksaan”[4]

1.      Bebas Dalam Faham Negatif
Disebut sebagai kebebasan negetif karena hanya dikatakan bebas dari apa tetapi tidak ditentukan bebas untuk apa. Orang itu benar  kalau kemungkinan-kemungkinan untuk bertindak tidak dibatasi orang lain dengan bentuk paksaan atau tekanan.[5]
Rupanya kebebasan yang paling mudah dimengerti dengan cara negatif. Demikian juga dalam kehidupan sehari-hari “bebas” dipahami sebagai “terlepas”, “tidak ada”, “tanpa”. Misalnya tentang : kebebasan tugas, jalan bebas hambatan, wilayah-wilayah bebas becak, makan bebas bakteri, daerah bebas buta huruf dll.

2.      Bebas Dalam Faham Positif
Yaitu kebebasan yang timbul pengertian positif “bebas tidak hanya dari sesuatu melainkan juga untuk sesuatu” atau “kebebasan untuk ….”harus diisi oleh menusia sendiri. Kemungkinan-kemungkinan ini sama luasnya dengan kreatif manusia.[6]
3.      Tiga Macam Kebebasan
a). Kebebasan Jasmaniah
            tidak adanya paksaan terhadap kemungkinan-kemungkinan untuk menggerakan badan kita. Jangkauan kebebasan jasmaniah ini ditentukan oleh badan kita sendiri dan tentu saja tidak terbatas.
b). Kebebasan Kehendak
            Kebebasan untuk menghendaki sesuatu. Jangkauan kebebasan kehendak adalah sejauh jangkauan kemngkinan untuk berfikir, karena manusia dapat memikirkan apa saja ia dapat juga menghendakinya.
            Lain dengan kebebasan Jasmaniah, kebebasan kehendak tidak dapat secara langsung dibatasi dari luar.
c).  Kebebasan Moral
1. Arti Luas
Tidak adanya macam-macam ancaman, tekanan larangan dan lain desakan yang tidak sampai berupa paksaan fisik.
2. Arti Sempit
Tidak adanya kewajiban. Saya bebas apabila kemungkinan-kemungkinan saya untuk bertindak itu tidak ada yang diwajibkan (sehingga dengan memilih kemungkinan yang lain saya langgar kewajiban) dan tidak ada yang dilanggar.[7]

Seorang dikatakan bebas, apabila :
1.      Dapat menentukan sendiri tujuan-tujuan dan apa yang dilakukannya.
2.      Dapat memilih antara kemungkinan-kemungkinan yang tersedia baginya.
3.      Tidak dipaksa / terikat untuk membuat sesuatu yang tidak akan dipilihnya sendiri ataupun dicegah dari berbuat apa yang dipilihnya sendiri, oleh kehendak orang lain, Negara atau kekuasaan apapun.

B.      TANGGUNG JAWAB
Bertanggungung jawab berarti : dapat menjawab, bila ditanyai tentang perbuatan-perbuatan yang dilakukan.                     
Orang yang bertanggung jawab dapat diminta penjelasan tentang tingkah lakukanya dan bukan saja ia menjawab kalau ia mau melainkan juga ia harus menjawab. Tanggung jawab berarti bahwa orang tidak boleh mengelak, bila diminta tentang penjelasan perbuatannya.
                        Tanggung jawab dapat juga berarti mencerminkan kesediaan menanggung semua resiko akibat dari perbuatan. Tanggung jawab yaitu keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, boleh dipersalahkan, diperkirakan) tanggung jawab merupakan sifat-sifat yang amat baik bagi manusia.[8]

Tanggung jawab dibedakan antara :
a.      Tanggung jawab Restropektif
Adalah tanggung jawab atas perbuatan yang telah berlangsung dan segala konsekuensinya.
b.      Tanggung jawab Prospektif
Adalah tanggung jawab atas perbuatan yang akan datang.
Dalam hidup sehari hari kita lebih sering banyak mengalami tanggung jawab restropektif, karena biasanya tanggung jawab baru dirasakan betul-betul, bila kita berhadapan dengan konsekuensinya. Disinipun kiasan “harus memberi jawaban” tampak dengan paling jelas. Sebelum perbuatan dilakukan pelaku bersangkutan tentu sudah bertanggung jawab (dalam arti prospektif), tapi saat itu tanggung jawabnya masih terpendam dalam hatinya dan belum berhadapan dengan orang lain. Baik untuk tanggung jawab retrospektif maupun untuk tanggung jawab prospektif berlaku bahwa tidak ada tanggung jawab tidak ada kebebasan.[9]
            Dengan kebenaran keputusan Tuhan yang tak dapat diubah, maka orang-orang berdosa tidak akan ditanya pada hari akhir. Seluruh kehidupan mereka hingga saat yang menentukan. Manusia telah diperintahkan oleh Al-Qur’an agar bertanggung jawab atas keyakinan dan pelanggaran mereka : apakah perintah untuk bertanggung jawab dapat digeneralisasikan kepada malaikat dan Tuhan sendiri tidak begitu jelas. Dijelaskan bahwa : Ia (Tuhan) tidak akan ditanya tentang apa yang ia perbuat, tetapi mereka (manusia) akan ditanya.[10]




C.      KEBEBASAN DAN TANGGUNG JAWAB
Dalam tanggung jawab terkandung pengertian “penyebab” orang bertanggung jawab atas sesuatu yang disebabkan olehnya. Orang yang tidak menjadi penyebab dari sesuatu akibat tidak bertanggung jawab juga. Bila teman saya mengakibatkan kecalakaan lalu lintas, saya tidak bertanggung jawab, sekalipun ia menggunakan sepeda motor saya. Dalam hal ini saya tidak bertanggung jawab, justru karena tidak menjadi penyebabnya. Kalau seorang bapak melakukan tindakan kriminal dan karena itu dihukum penjara seumur hidup, maka hanya dialah yang bertanggung jawab, bukan istri atau anak-anaknya (dengan pengandaian tentu bahwa ia memang bertindak sendirian). Adalah sama sekali tidak adil, bila istri dan anak-anaknya dipersalahkan atau didiskriminasi akibat kejahatan si bapak itu, justru bukan merekalah yang melakukan tindak kejahatan itu. Tetapi untuk bertanggung jawab, tidak cukuplah orang menjadi penyebab, perlu juga orang menjadi penyebab bebas. Kebebasan adalah syarat mutlak untuk bertanggung jawab. [11]
      Kebebasan ditantang kalau berhadapan dengan kewajiban moral. Sikap moral yang dewasa adalah sikap yang bertanggung jawab. Tak mungkin ada tanggung jawab tanpa ada kebebasan.
Jadi kebebasan mengandung pengetian :
1.      Kemampuan untuk menentukan diri sendiri.
2.      Kemampuan untuk bertanggung jawab.
3.      Kedewasaan manusia.
4.      Keseluruhan kondisi yang memungkinkan manusia untuk melaksanakan tujuan hidupnya.
Tingkah laku yang didasarkan pada sikap, sistem nilai dan pola fikir berarti tingkah laku berdasarkan kesadaran, berarti bukan instinktif, terdapat makna kebebasan manusia yang merupakan objek material etika. [12]

Kesimpulan :

Kami menyimpulkan bahwa kebebasan itu mempunyai hubungan yang sangat erat dengan tanggung jawab. Karena kebebasan tanpa didasari tanggung jawab juga tidak akan berjalan sesuai dengan yang kita inginkan, begitu juga tanggung jawab. Jika tidak diiringi dengan kebebasan juga tak akan berjalan semestinya. Karena dalam kehidupan ini tidak ada kebebasan yang sepenuh-penuhnya pasti ada aturan-aturan yang mengikat karena ada aturan itu kita diharuskan mempunyai rasa tanggung jawab. Agar berjalan selaras kehidupan ini, dengan demikian berarti kebebasan dan tanggung jawab mempengaruhi perilaku seseorang.











DAFTAR PUSTAKA

         Abdullah. Yatimin. 2007. Studi Akhlak dalam Prespektif Islam. Jakarta : Sinar grafika Offset.
         Charris,zubair Achmad. 1995. Kuliah Etika. Jakarta : PT. Erafindo Pustaka.
         Fakhry. Majid.1996 Etika Dalam Islam. Yokyakarta: Pustaka Pelajar Offset.
         K.Bertens.1999.Etika. Jakarta : gramedia pustaka utama.
         Rasjidi.1975.Filsafat Agama. Jakarta : Bulan Bintang.

KAIDAH DASAR MORALITAS

KAIDAH DASAR MORALITAS

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas
Dosen Pengampu            :     Muhammad Ghufron Dimyati, M.S.I
Mata Kuliah                    :     Ilmu Akhlak
Kelas                               :     F





Kelompok                        :     6 (enam)
Disusun Oleh :

1.     Faisal Fahmi                            (2021 111 255)
2.     M. Azhar Fathoni                    (2021 111 256)
3.     Siti Nur Fitriana                      (2021 111 257)
4.     Muhamad Luthfi                     (2021 111 258)

TARBIYAH PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
TAHUN AJARAN 2011/2012




PENDAHULUAN

Kesadaran moral merupakan factor penting untuk memungkinkan tindakkan manusia selalu bermoral, berperilaku sopan, tindakanya sesuai dengan norma yang berlaku. Kesadaran moral di dasarkan atas nilai-nilai yang benar. Perilaku manusia yang berdasarkan kesadaran moral akan selalu direalisasikan sebagaimana seharusnya, kapan saja, dan dimana saja, bukan karena paksaan namun berdasarkan kesadaran moral.







PEMBAHASAN

A. Kaidah Dasar Moral

1. Moralitas

Moralitas adalah system nilai tentang bagaimana kita harus hidup secara baik sebagai manusia. Sistem nilai ini tekandung dalam ajaran berbentuk petuah-petuah, nasehat, peraturan-peraturan, dan perintah semacamnya yang diwariskan secara turun temurun melalui agama, atau kebudayaan tertentu tentang bagaimana manusia harus hidup secara baik. Moralitas member manusia aturan atau petunjuk konkrit tentang bagaimana ia harus hidup, bagaimana ia harus bertindak dalam hidup ini sebagai manusia yang baik, dan bagaimana menghindai perilaku-perilaku yang tidak baik.[1]

Manusia menjadi manusia sebenarnya jika ia menjadi manusia yang etis. Manusia disebut etis ialah manusia yang secara utuh dan menyeluruh mampu memenuhi hajat hidupnya dalam rangka asas keseimbangan antara kepentingan pribadi dengan kepentingan sosialnya, antara rohani dan jasmaninya, dan antara makhluk berdiri sendiri dengan khalik-nya. Dalam konsep etis, didirikan atas dasar kepercayaan bahwa kehidupan manusia secara keseluruhan adalah baik, pada dasarnya manusia adalah baik.[2]

2. Macam Kaidah Dasar Moral:

a. Kaidah sikap baik

Dimaksudkan bahwa kita wajib bertindak sedemikian rupa sehingga ada kelebihan dari akibat baik dibandingkan akibat  buruk. Kaidah ini hanya berlaku kalau kita menerima kaidah yang lebih besar lagi, yaitu kita harus membuat hal yang baik dan mencegah hal yang buruk. Seccara ideal kita hanya meenghasilkan akibat baik dan sama sekali tidak  menghasilkan hal yang buruk. Tetapi karena sering tidak mungkin sekurang-kurangnya akibat buruk harus diminimalisasikan.

Kaidah sikap baik pada dasarnya mendasari semua norma-norma moral. Sikap baik dalam arti adalah memandang seseorang atau sesuatu tidak hanya sejauh berguna bagi saya menghendaki, menyetujui, membenarkan, mendukung, membela, membiarkan seseorang atau sesuatu berkembang demi itu sendiri. Sikap baik itu harus dinyatakan secara konkrit tergantung dari apa yang bbaik dalam situasi konkrit itu.[3]

b. Kaidah keadilan

Keadilan dalam membagikan yang baik dan yang buruk. Keadilan menunjukkan perilaku moral pada diri manusia dimana ia berusaha mencapai persamaan. Sebagai perilaku positif keadilan kadang-kadang bermakna keseimbangan dari seluruh kebaikan dan kadang-kadang merupakan kebaikan tertinggi sejauh manusia dapat mempraktekanya dalam dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.[4]

Memberi perlakuan yang sama kepada orang lain berarti:

1.         Memberi sumbangan yang relative sama terhadap kebaikan mereka, yang di ukur dari kebutuhan mereka.

2.         Menuntut dari pengorbanan yang relative sama, diukur dari kemampuan yang mereka miliki.

Dalam menentukan perlakuan yang sama atau adil, perlu di perhatikan kemampuan dan kebutuhan seseorang. Sebab perbedaan dalam kemampuan dan kebutuhan seseorang adalah cirri tang dapat membenarkan suatu yang berbeda pula. Sedangkan perlakuan yang tak sama atau tidak adil dapat dibenarkan berdasarkan kaidah sikap baik dalam jangka panjang akan menghasilkan kesamaan yang lebih besar.[5]



3. Landasan Kaidah Dasar

a. Landasan kaidah dasar sikap baik

Berdasarkan kesadaran bahwa apa saja yang ada karena adanya itu saja, pantas di dukung. Maksudnya, bahwa apa saja yang ada, pantas kita bersikap baik terhadapnya. Dengan kaidah dasar sikap baik dapat melindungi dan mempertahankan hak yang lain, mencegah terjadi kerugian pada yang lain serta dapat menghilangkan kondisi penyebab terjadinya masalah pada yang lain.[6]

b. Landasan kaidah keadilan   

Kaidah ini hanya berlaku bagi makhluk yang berakal budi dan fungsinya ialah menjamin agar tidak ada seorangpun yang dirampas haknya demi keuntungan orang lain ataupun seluruh masyarakat.[7]

B. Ketuhanan Sebagai Kaidah Dasar

1. Postulat dalam Etika

Ketuhanan adalah, dasar dari seluruh kesusilaan dan juga tujuan dari kesusilaan. Tanpa ketuhanan tidak mungkin ada kesusilaan yang berkembang. Oleh karena itu, bagaimana juga pada tiap ilmu pengetahuan sebelum terdapat kebenaran, yang di buktikan dalam ilmu pengetahuan lain. Karena itu ilmu pengetahuan yang bersangkutan itu merupakan suatu keperluan, maka disebut sebagai tuntutan.[8]

Diantara kebenaran yang di pertanggungjawabkan dalam ilmu lain, yang teristimewa bagi etika ialah apa yang juga dirumuskan oleh Immanuel Kant.

2.  Pendapat Tokoh Tentang Kaidah Dasar

a.   Aurelius Agustinus

Manusia itu, dalam suara batinya melihat hokum dari kodratnya sendiri, akan tetapi bersamaan dengan itu, dia menduga juga bahwa dasar yang terdalam dari hokum itu ialah Tuhan sendiri. Agustinus, berpendapat bahwa, kesadaran moral dapat melihat nilai yang mengatasi segala nilai dunia ini.

b.  Immanul Kant

Dalam suara batinya manusia itu mengerti adanya imperative kategoris. Berdasarkan itu, manusia mengerti segala kewajibanya sebagai perintah dari Tuhan. Itulah sebetulnya bukti tentang adanaya Tuhan.

c.     John Henry Newman

Hubungan antara ketuhanan dan kesusilaan sangat erat. Kesusilaan pada praktiknya kita terapkan dengan suara batin kita. Suara batin adalah pengertian yang mengatakan bahwa suatu pperbuatan boleh atau tidak boleh. Suara batin pada dasarnya adalah suara dari Tuhan.

d.   Max Scheler

Rasa penyesalan apabila berbuat salah tak dapat diterangkan kecuali jika manusia merasa berhadapan dengan Tuhan. Pelanggaran moral pada hakekatnya adalah pelanggaran  kehendak dan hokum Tuhan. Menyesal atas kesalahan moral berarti kembali ke Tuhan.

Bertindak susila pada hakekatnya, berarti melaksanakan dan menjalankan diri sebagai ciptaan Tuhan supaya makin mendekat kepada Tuhan. Jadi, ada tiga kaidah dasar moral yang pokok. Manusia susila memiliki ciri-ciri:

1.             Adanya kesadaran sebagai manifestasi sifat ketuhanan dalam arti kemampuan secara utuh bahwa manusia itu memiliki nilai, maksudnya manusia sebagai makhluk berakal budi merupakan sesuatu yang bernilai tak terhingga.

2.             Lebih  menyempitkkan dalam hidup dan kehidupan manusia antara praktek dan teori sebagai kesatuan utuh

3.             Harus komitmen kepada martabat manusia, yang harus menjadi dasar dari setiap kegiatan dalam beretika.

4.             Mampu merumuskan aspirasi dan kesadaran masyarakat sehingga mampu merumuskan konsep etika yang sebenarnya.

5.             Mempunyai kemampuan untuk withdrawal dan return. Maksudnya withdrawal adalah mengundurkan diri dari kehidupan soial untuk mendatangkan penerangan pribadi (kegiatan kontemplatif perenungan kematangan teori). Sedangkan return adalah, kembali ke masyarakat yang di buktikan denggan kegiatan praktis sesuai kenyataan atau fakta.[9]



KESIMPULAN



Manusia yang menjadi manusia yang sebenarnya jika ia menjadi manusia yang etis sesuai kaidah dasar moral yang titik tolaknya ialah ia percaya kepada kebenaran, kebaikan dan keadilan serta ia berusaha sekuat tenaga berbuat secara benar, baik dan adil. Manusia di sebut etis ialah manusia yang secara utuh dan menyeluruh mampu memenuhi hajat kehidupanya.



DAFTAR PUSTAKA

Amin,Ahmad. Etika Ilmu Akhlak. 1975. Jakarta: PT Bulan Bintang.

Fakhri,Majid. Etika Dalam Islam. 1996. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

Zubair,Ahmad Charris. Kuliah Etika. 1995. Jakarta: PT Grafindo Persada.

Salam,Burhanuddin. Etika Sosial Asas Moral Dalam Kehidupan Manusia. 1997. Jakarta: Rieneka Cipta.

Bertens,K. Etika. 1997. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama




KONSEP dan APLIKASI KEBAIKAN, KEBAJIKAN dan KEBAHAGIAAN




MAKALAH

KONSEP dan APLIKASI 
KEBAIKAN, KEBAJIKAN dan KEBAHAGIAAN

Disusun guna memenuhi tugas :

Mata Kuliah                : Ilmu Akhlak
Dosen Pengampu        : M. Ghufron Dimyati, M.SI

Oleh kelompok 7

1.      ABDUL KHALIM                         : 2021 111 259
2.      SITI SURAHMI                            : 2021 111 260
3.      NURUL FADHILAH                     : 2021 111 261
4.      DZIKROTUL KHASANAH         : 2021 111 262

Kelas : F

TARBIYAH / PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
( STAIN ) PEKALONGAN
2011

PENDAHULUAN

                                                                                                                                                                                          
          Dalam kehidupan setiap manusia pastilah diiringi oleh konsep kebaikan, kebajikan dan kebahagiaan. Ketiganya berjalan secara beriringan, tidak dapat dipisahkan karena merupakan kesatuan yang utuh. Berawal dari kebaikan kemudian berlanjut menjadi kebajikan dan berakhir pada kebahagiaan.
            Di dalam makalah ini akan membahas tentang konsep “APLIKASI KEBAIKAN, KEBAJIKAN DAN KEBAHAGIAAN” . Kami mengharapkan mudah-mudahan makalah kami kali ini, dapat membantu mahasiswa dalam memahami dan mempelajari materi terseut dan dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan yang nyata.




















PEMBAHASAN


A.    KEBAIKAN
Secara umum kebaikan adalah sesuatu yang di inginkan, yang di usahakan dan menjadi tujuan manusia. tingkah laku manusia adalah baik dan benar, jika tingkah laku tersebut menuju kesempurnaan manusia. Kebaikan disebut nilai (vulue) bahwa nilai kebaikan itu di ukur oleh Agama, dan tidak oleh semata – mata oleh kepentingan Dunia[1]
Dalam etika, sebagai filsafat tingkah laku, antara lain dibicarakan apakah ukuran baik buruknya kelakuan manusia.yang dicari adalah ukuran yang bersifat umum, yang berlaku pada semua manusia. Pada garis besarnya teori – teori yang berkenaan dengan hal ini dapat digolongkan pada 2 golongan yaitu :
1.                  Teori Deontologis
Dalm teori ini tindakan yang dalam hal tertentu disebut juga etika situasi, pada pokoknya mengatakan bahwa setiap tindakan itu baik bukan dinilai dan dibenarkan berdasaekan akibat atau tujuan baik dari tindakan itu, melainkan berdasarkan tindakan itu sendiri. Karena itu etika deontologi menekankan kewajiban manusia untuk bertindak secara baik.
2.      Teori Teleologis
Etiks teleologis justru mengukur baik buruknya perbuatan atau suatu tindakan berdasarkan dari akibat – akibat Yang ditimbulkan atau tujuan yang ingin dicapai.suatu tindakan dinilai baik, kalau bertujuan mencapai sesuatu yang baik.[2]
Tujuan akhir dari setiap manusia merupakan kebaikan tertinggi, baik manusia itu mencarinya dengan kesungguhan atau tidak. Tingkah laku atau perbuatan menjadi baik dalam arti akhlak, apabila membimbing manusia kearah tujuan akhir yaitu dangan melakukan perbuatan yang membuatnya baik sebagai manusia.[3]
Dalam melakukan kebaikan – kebaikan maka dibagi tipe – tipe kebaikan yaitu :
a.       Kebaikan – kebaikan Jasmani
  1. Kebaikan – kebaikan Eksternal.
c.       Kebaikan – kebaikan Tuhan

B.     KEBAJIKAN
Kebajikan merupakan kualitas kejiwaan, keadaan yang tetap sehingga memudahkan pelaksanaan perbuatan. Kebiasaan dalam pengartian yang sebenarnya hannya ditemukan pada manusia, karena hannya manusia yang dengan sengaja, bebas, mengarahkan kegiatannya.
Kebiasaan yang dari sudut pandang kesusilaan baik dinamakan kebajikan (virtue), sedangkan yang jahat, buruk, dinamakan kejahatan (vice). Kebajikan adalah kebiasaan yang menyempurnakan manusia. Kebajikan budi menyempurnakan akal menjadi alat yang baik untuk menerima pengetahuan. Bagi budi spekulartif kebajikan disebut pengertian, pengetahuan. Bagi budi praktis disebut kepandaian, kebijaksanaan..
Kebajikan pokok adalah kebajikan susila yang terpenting,meliputi :                        
1.      Menuntut keputusan budi yang benar guna memilih alat - alat dengan tepat untuk tujuan yang bernilai (kebijaksaan).
2.      Pengendalian keinginan kepada kepuasan badaniah (pertahanan / pengendalian).
3.      Tidak menyingkir dari kesulitan.
4.      Memberikan hak kepada yang memilikinya (keadilan).[4]
Manusia didalam mengerjakan kebaikan,terbagi kedalam 2 kelompok :
a)      Manusia yang mengerjakan kebajikan dengan meengharapkan rasa terima kasihdari orang lain.
b)      Manusia yang mengerjakan kebajikan tanpa mengharapkan rasa terima kasih dari orang lain.
Begitu juga dari sisi menyampaikan rasa terima kasih manusia terbagi kepada 2 kelompok yaitu :
a)      Manusia yang menyampaikan terima kasih kepada orang lain atas perbuatannya.
b)      Manusia yang tidak menyampaikan terima kasih kepada orang lain atas perbuatan baiknya.
Sejarah menceritakan Nabi Isa al-mahdi As. Permnah mengobati sepuluh orang yamg sakit  pada waktu yang sama., Namun tidak ada satupun dari mereka yang mengucapkan terima kaasih, walaupun demikian, hal itu tidak menghalangi buliau untuk terus berbuat kebajikan kepada manusia.[5]
Bahkan tidak mustahil anda melakukan kebajikan kepada orang lain namun alih- alih mengucapakan terima kasih,mereka malah menyakitimu.dari sisi lain, tidaklah terpuji jika kita mengingkari dan tidak mengucapkan terima kasih atas kebaikan yang dilakukan orang kepada kita,baik yang secara langsung berhubungan dengan kita maupun tidak langsung. Menyampaikan terima kasih kepada orang lain tidak membebani kita sedikitpun.
Imam ja’far Ash-shadiq as berkata “ berterima kasihlah kepada orang yang telah memberikan kenikmatan kepadamu dan berikan kenkmatan kepada orang yang berterima kasih kepadamu. sesungguhnya kenikmatan tidak akan hilang jika kamu berterima kasih dan tidak akan langgeng jika kamu mengingkari. Berterima kasih itu akan memperbanyak kenikmatan dan menghindarkan kekafiran.[6]




C. KEBAHAGIAAN.
1.      Pengertian Kebahagiaan
Kebahagiaan merupakan dasar alasan, seluruh perbuatan manusia. Bahagia juga sering disama artikan dengan kesenangan. Kesenangan yang dimaksud adalah menurut ukuran fisik, harta, atau apa saja yang tampak,yang dapat dinilai dengan uang. Jadi orang yang sudah senang karena harta bendanya yang banyak, sudah sama artinya dengan orang yang berbahagia. Bahagia = kesenangan.
Kebahagiaan adalah kepuasan yang sadar, yang dirasakan seseorang karena keinginannya memiliki kebaikan sudah terlaksana. Kebahagiaan sempurna terjadi karena kebaikan sempurna dimiliki secara lengkap sehingga memenuhi seluruh keinginan kita. Beberapa jalan fikiran yang menganggap kebahagiaan sempurna itu dapat dicapai:
a)      Manusia mempunyao keinginanakan bahagia sempurna.
b)      Keinginan tersebut merupakan bawaan kodrat manusia yaitu merupakan dorongan pada alam rohaniyah yang bukan sekedar efek samping.
c)      Sifat bawaan tersebut dimaksudkan untuk mencapai kesempurnaan yang sesuai dengan harkat manusia.[7]

2.      Asas Bahagia Adakah Kesenangan
Sebenarnya tidak dapat disangkal, bahwa asas pegertian bahagia itu adalah kesenangan. Yang menjadi tanda tanya sekarang ialah kesenangan itu banyak jenisnya dan sebanyak sumbernya.
Pada garis besarnya kesenangan itu dapat dibagi atas dua golongan : kesenangan fisik dan kesenangan psychis / rohani.
a.         Kesenangan Fisik.
Yang pokok disini adalah kesenangan yang dapat dirasakan, dinikmati oleh tubuh / raga. Sumber dan jenisnya dari makanan, minuman, yang menerima kesenangan itu mulai dari tenggorokan sampai keperut.
Bila sumbernya hubungan badani, maka yang menerima kesenangan itu adalah alat kelamin, bila sumbernya sebagai hasil kerja misalnya pekerjaan tangan atau sesuatu yang menggunakan tenaga, maka kesenangan itu dinilai dengan sebutan memuaskan, beres dan selesai.
b.         Kesenangan Psychis
Bila sumbernya sebagai hasil seni. Contoh Lukisan, Lagu, Musik,maka hasil kesenanggan itu dinilai dengan sebutan indah, menarik, hebat. Penilaian ini diberikan oloeh rasa, emosi, getaran jiwa.
Bila sunbernya itu adalah otak, piker, yang merasakan kesenangan itu adalah otak, piker dimana hasil kesenangan itu dinilai dengan sebutan ilmiah, hebat, mengagumkan dan sebagainya.
Bila sumbernya adalah kepercayaan, yang menikmati kesenangan itu adalah jiwa, perasaan, rohani, hati, dimana kesenangan itu dinailai dengan sebutan menentramkan jiwa, yakni rasa beriman, dan sebagainya.
Bila sumbernya itu dari alam itu sendiri yang merasakn kesenangan itu adalah panca indra yang turut menikmati keindahan yang disajikan oleh alam itu. Hasilpenilaian dari kesenangan itu biasanya dengan pujian mengagumkan.[8]

3.      Teori Tentang Kesenangan
Disini teori tentang kesenangan dibagi menjadi dua teori, yaitu :
A.       Teori etika Hedonisme (Ethical Hedonisme) etika hedonisme disini dimaksudkan sebagai suatu teori bagaimana seharusnya orang bertindak, apa yang ingin diperbuat untuk mendapatkan kesenangan itu.
Dalam pelaksanaannya ethikal Hedonisme ini terdapat dua aliran :
1.    Yang bersifat egois, disebut juga Hedonisme egois, yaitu yang bertujuan untuk mendapatkan kesenangan semaksimal mungkin. Kesenangan yang dimaksud ialah yang dapat dinikmati dengan waktu yang lama dan mendalam.
2.    Yang bersifat umum, disebut juga Hedonisme Universal yaitu suatu aliran yang dapat dirasakan bagi diri sendiri dan bagi orang banyak.
B.       Teori Jhon stuart mill tentang kesenangan.
Yang banyak mempersoalkan masalah kesenangan ini, adalah Jhon Stuart Mill yang kemudian juga dikenal dengan teori utilitarian. J.S Mill membagi teori ini atas enam disposisi :
  Baik dalam bidang pikir maupun kerja,terdapat konsekuensi senang dan susah. Satu- satunya yang diinginkan adalah kesenangan.
  Dari segi psikologis, dimanapun mausia berada,apapun yang mereka kerjakan sudah menjadi waktunya, manusia itu selalu menjadi kesenangan.
  Antara kesenangan – kesenangan itu sendiri kualitasnya tidak sama. Sudah tentu orang akan memilih jenis kesenangan yangmenurut anggapannya lebih baik dan lebih sesuai dengan dirinya
  Bahwa kesenangan itu sendiri dapat dirasakan oleh banyak orang.
  Bahwa bila terdapat dua jenis kesenangan yang dianggap sama, maka yang dijadikan criteria untuk memilih mana diantara yang terbaik,maka dipilihlah yang paling lama memberi kesan yang paling lama dapat dinikmati.
  Bahwa kesenangan itu adalah merupakan suatu yang patut diterima oleh seseorang yang telah bekerja, telah berusaha dan berjuang dalam hidupnya.[9]






KESIMPULAN


            Sebenarnya kebaikan, kebajikan dan kebahagiaan merupakan suatu bentuk kepribadian yang saling berkaitan. Dan merupakan sesuatu yang diinginksn dan merupakan dari kwalitas kejiwaandan keadaan yang tetap. Sehingga, memudahkan dalam pelaksanaan perbuatan yang akan di lakukan. Selain itu juga dapat menimbulkan rasa kepuasan yang besar.
            Tingkah laku atau perbuatan akan menjadi baik dalam arti akhlak, yaitu dengan melakukan perbuatan yang membuatya baik sebagai manusia. Dan untuk mengukur baik buruknya perbuatan atau suatu tindakan berdasarkan dari akibat-akibat yang ditimbulkan atau tujuan yang akan di capai kelak.



















DAFTAR PUSTAKA


Al-Musawi, Khalil. 2000. Bagaimana Membangun Kepribadian Anda. Yokyakarta: Pustaka Pelajar
Fakhri, Majid. 1996. Etika Dalam Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Salam, Burhanuddin. 1997. Etika Sosial. Jakarta: PT, Rineka Cipta
Zubair, Achmad Charris. 1987. Kuliah Etika. Jakarta: Rajawali Press