Social Icons

Pages

22 Nov 2011

KONSEP dan APLIKASI KEBAIKAN, KEBAJIKAN dan KEBAHAGIAAN




MAKALAH

KONSEP dan APLIKASI 
KEBAIKAN, KEBAJIKAN dan KEBAHAGIAAN

Disusun guna memenuhi tugas :

Mata Kuliah                : Ilmu Akhlak
Dosen Pengampu        : M. Ghufron Dimyati, M.SI

Oleh kelompok 7

1.      ABDUL KHALIM                         : 2021 111 259
2.      SITI SURAHMI                            : 2021 111 260
3.      NURUL FADHILAH                     : 2021 111 261
4.      DZIKROTUL KHASANAH         : 2021 111 262

Kelas : F

TARBIYAH / PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
( STAIN ) PEKALONGAN
2011

PENDAHULUAN

                                                                                                                                                                                          
          Dalam kehidupan setiap manusia pastilah diiringi oleh konsep kebaikan, kebajikan dan kebahagiaan. Ketiganya berjalan secara beriringan, tidak dapat dipisahkan karena merupakan kesatuan yang utuh. Berawal dari kebaikan kemudian berlanjut menjadi kebajikan dan berakhir pada kebahagiaan.
            Di dalam makalah ini akan membahas tentang konsep “APLIKASI KEBAIKAN, KEBAJIKAN DAN KEBAHAGIAAN” . Kami mengharapkan mudah-mudahan makalah kami kali ini, dapat membantu mahasiswa dalam memahami dan mempelajari materi terseut dan dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan yang nyata.




















PEMBAHASAN


A.    KEBAIKAN
Secara umum kebaikan adalah sesuatu yang di inginkan, yang di usahakan dan menjadi tujuan manusia. tingkah laku manusia adalah baik dan benar, jika tingkah laku tersebut menuju kesempurnaan manusia. Kebaikan disebut nilai (vulue) bahwa nilai kebaikan itu di ukur oleh Agama, dan tidak oleh semata – mata oleh kepentingan Dunia[1]
Dalam etika, sebagai filsafat tingkah laku, antara lain dibicarakan apakah ukuran baik buruknya kelakuan manusia.yang dicari adalah ukuran yang bersifat umum, yang berlaku pada semua manusia. Pada garis besarnya teori – teori yang berkenaan dengan hal ini dapat digolongkan pada 2 golongan yaitu :
1.                  Teori Deontologis
Dalm teori ini tindakan yang dalam hal tertentu disebut juga etika situasi, pada pokoknya mengatakan bahwa setiap tindakan itu baik bukan dinilai dan dibenarkan berdasaekan akibat atau tujuan baik dari tindakan itu, melainkan berdasarkan tindakan itu sendiri. Karena itu etika deontologi menekankan kewajiban manusia untuk bertindak secara baik.
2.      Teori Teleologis
Etiks teleologis justru mengukur baik buruknya perbuatan atau suatu tindakan berdasarkan dari akibat – akibat Yang ditimbulkan atau tujuan yang ingin dicapai.suatu tindakan dinilai baik, kalau bertujuan mencapai sesuatu yang baik.[2]
Tujuan akhir dari setiap manusia merupakan kebaikan tertinggi, baik manusia itu mencarinya dengan kesungguhan atau tidak. Tingkah laku atau perbuatan menjadi baik dalam arti akhlak, apabila membimbing manusia kearah tujuan akhir yaitu dangan melakukan perbuatan yang membuatnya baik sebagai manusia.[3]
Dalam melakukan kebaikan – kebaikan maka dibagi tipe – tipe kebaikan yaitu :
a.       Kebaikan – kebaikan Jasmani
  1. Kebaikan – kebaikan Eksternal.
c.       Kebaikan – kebaikan Tuhan

B.     KEBAJIKAN
Kebajikan merupakan kualitas kejiwaan, keadaan yang tetap sehingga memudahkan pelaksanaan perbuatan. Kebiasaan dalam pengartian yang sebenarnya hannya ditemukan pada manusia, karena hannya manusia yang dengan sengaja, bebas, mengarahkan kegiatannya.
Kebiasaan yang dari sudut pandang kesusilaan baik dinamakan kebajikan (virtue), sedangkan yang jahat, buruk, dinamakan kejahatan (vice). Kebajikan adalah kebiasaan yang menyempurnakan manusia. Kebajikan budi menyempurnakan akal menjadi alat yang baik untuk menerima pengetahuan. Bagi budi spekulartif kebajikan disebut pengertian, pengetahuan. Bagi budi praktis disebut kepandaian, kebijaksanaan..
Kebajikan pokok adalah kebajikan susila yang terpenting,meliputi :                        
1.      Menuntut keputusan budi yang benar guna memilih alat - alat dengan tepat untuk tujuan yang bernilai (kebijaksaan).
2.      Pengendalian keinginan kepada kepuasan badaniah (pertahanan / pengendalian).
3.      Tidak menyingkir dari kesulitan.
4.      Memberikan hak kepada yang memilikinya (keadilan).[4]
Manusia didalam mengerjakan kebaikan,terbagi kedalam 2 kelompok :
a)      Manusia yang mengerjakan kebajikan dengan meengharapkan rasa terima kasihdari orang lain.
b)      Manusia yang mengerjakan kebajikan tanpa mengharapkan rasa terima kasih dari orang lain.
Begitu juga dari sisi menyampaikan rasa terima kasih manusia terbagi kepada 2 kelompok yaitu :
a)      Manusia yang menyampaikan terima kasih kepada orang lain atas perbuatannya.
b)      Manusia yang tidak menyampaikan terima kasih kepada orang lain atas perbuatan baiknya.
Sejarah menceritakan Nabi Isa al-mahdi As. Permnah mengobati sepuluh orang yamg sakit  pada waktu yang sama., Namun tidak ada satupun dari mereka yang mengucapkan terima kaasih, walaupun demikian, hal itu tidak menghalangi buliau untuk terus berbuat kebajikan kepada manusia.[5]
Bahkan tidak mustahil anda melakukan kebajikan kepada orang lain namun alih- alih mengucapakan terima kasih,mereka malah menyakitimu.dari sisi lain, tidaklah terpuji jika kita mengingkari dan tidak mengucapkan terima kasih atas kebaikan yang dilakukan orang kepada kita,baik yang secara langsung berhubungan dengan kita maupun tidak langsung. Menyampaikan terima kasih kepada orang lain tidak membebani kita sedikitpun.
Imam ja’far Ash-shadiq as berkata “ berterima kasihlah kepada orang yang telah memberikan kenikmatan kepadamu dan berikan kenkmatan kepada orang yang berterima kasih kepadamu. sesungguhnya kenikmatan tidak akan hilang jika kamu berterima kasih dan tidak akan langgeng jika kamu mengingkari. Berterima kasih itu akan memperbanyak kenikmatan dan menghindarkan kekafiran.[6]




C. KEBAHAGIAAN.
1.      Pengertian Kebahagiaan
Kebahagiaan merupakan dasar alasan, seluruh perbuatan manusia. Bahagia juga sering disama artikan dengan kesenangan. Kesenangan yang dimaksud adalah menurut ukuran fisik, harta, atau apa saja yang tampak,yang dapat dinilai dengan uang. Jadi orang yang sudah senang karena harta bendanya yang banyak, sudah sama artinya dengan orang yang berbahagia. Bahagia = kesenangan.
Kebahagiaan adalah kepuasan yang sadar, yang dirasakan seseorang karena keinginannya memiliki kebaikan sudah terlaksana. Kebahagiaan sempurna terjadi karena kebaikan sempurna dimiliki secara lengkap sehingga memenuhi seluruh keinginan kita. Beberapa jalan fikiran yang menganggap kebahagiaan sempurna itu dapat dicapai:
a)      Manusia mempunyao keinginanakan bahagia sempurna.
b)      Keinginan tersebut merupakan bawaan kodrat manusia yaitu merupakan dorongan pada alam rohaniyah yang bukan sekedar efek samping.
c)      Sifat bawaan tersebut dimaksudkan untuk mencapai kesempurnaan yang sesuai dengan harkat manusia.[7]

2.      Asas Bahagia Adakah Kesenangan
Sebenarnya tidak dapat disangkal, bahwa asas pegertian bahagia itu adalah kesenangan. Yang menjadi tanda tanya sekarang ialah kesenangan itu banyak jenisnya dan sebanyak sumbernya.
Pada garis besarnya kesenangan itu dapat dibagi atas dua golongan : kesenangan fisik dan kesenangan psychis / rohani.
a.         Kesenangan Fisik.
Yang pokok disini adalah kesenangan yang dapat dirasakan, dinikmati oleh tubuh / raga. Sumber dan jenisnya dari makanan, minuman, yang menerima kesenangan itu mulai dari tenggorokan sampai keperut.
Bila sumbernya hubungan badani, maka yang menerima kesenangan itu adalah alat kelamin, bila sumbernya sebagai hasil kerja misalnya pekerjaan tangan atau sesuatu yang menggunakan tenaga, maka kesenangan itu dinilai dengan sebutan memuaskan, beres dan selesai.
b.         Kesenangan Psychis
Bila sumbernya sebagai hasil seni. Contoh Lukisan, Lagu, Musik,maka hasil kesenanggan itu dinilai dengan sebutan indah, menarik, hebat. Penilaian ini diberikan oloeh rasa, emosi, getaran jiwa.
Bila sunbernya itu adalah otak, piker, yang merasakan kesenangan itu adalah otak, piker dimana hasil kesenangan itu dinilai dengan sebutan ilmiah, hebat, mengagumkan dan sebagainya.
Bila sumbernya adalah kepercayaan, yang menikmati kesenangan itu adalah jiwa, perasaan, rohani, hati, dimana kesenangan itu dinailai dengan sebutan menentramkan jiwa, yakni rasa beriman, dan sebagainya.
Bila sumbernya itu dari alam itu sendiri yang merasakn kesenangan itu adalah panca indra yang turut menikmati keindahan yang disajikan oleh alam itu. Hasilpenilaian dari kesenangan itu biasanya dengan pujian mengagumkan.[8]

3.      Teori Tentang Kesenangan
Disini teori tentang kesenangan dibagi menjadi dua teori, yaitu :
A.       Teori etika Hedonisme (Ethical Hedonisme) etika hedonisme disini dimaksudkan sebagai suatu teori bagaimana seharusnya orang bertindak, apa yang ingin diperbuat untuk mendapatkan kesenangan itu.
Dalam pelaksanaannya ethikal Hedonisme ini terdapat dua aliran :
1.    Yang bersifat egois, disebut juga Hedonisme egois, yaitu yang bertujuan untuk mendapatkan kesenangan semaksimal mungkin. Kesenangan yang dimaksud ialah yang dapat dinikmati dengan waktu yang lama dan mendalam.
2.    Yang bersifat umum, disebut juga Hedonisme Universal yaitu suatu aliran yang dapat dirasakan bagi diri sendiri dan bagi orang banyak.
B.       Teori Jhon stuart mill tentang kesenangan.
Yang banyak mempersoalkan masalah kesenangan ini, adalah Jhon Stuart Mill yang kemudian juga dikenal dengan teori utilitarian. J.S Mill membagi teori ini atas enam disposisi :
  Baik dalam bidang pikir maupun kerja,terdapat konsekuensi senang dan susah. Satu- satunya yang diinginkan adalah kesenangan.
  Dari segi psikologis, dimanapun mausia berada,apapun yang mereka kerjakan sudah menjadi waktunya, manusia itu selalu menjadi kesenangan.
  Antara kesenangan – kesenangan itu sendiri kualitasnya tidak sama. Sudah tentu orang akan memilih jenis kesenangan yangmenurut anggapannya lebih baik dan lebih sesuai dengan dirinya
  Bahwa kesenangan itu sendiri dapat dirasakan oleh banyak orang.
  Bahwa bila terdapat dua jenis kesenangan yang dianggap sama, maka yang dijadikan criteria untuk memilih mana diantara yang terbaik,maka dipilihlah yang paling lama memberi kesan yang paling lama dapat dinikmati.
  Bahwa kesenangan itu adalah merupakan suatu yang patut diterima oleh seseorang yang telah bekerja, telah berusaha dan berjuang dalam hidupnya.[9]






KESIMPULAN


            Sebenarnya kebaikan, kebajikan dan kebahagiaan merupakan suatu bentuk kepribadian yang saling berkaitan. Dan merupakan sesuatu yang diinginksn dan merupakan dari kwalitas kejiwaandan keadaan yang tetap. Sehingga, memudahkan dalam pelaksanaan perbuatan yang akan di lakukan. Selain itu juga dapat menimbulkan rasa kepuasan yang besar.
            Tingkah laku atau perbuatan akan menjadi baik dalam arti akhlak, yaitu dengan melakukan perbuatan yang membuatya baik sebagai manusia. Dan untuk mengukur baik buruknya perbuatan atau suatu tindakan berdasarkan dari akibat-akibat yang ditimbulkan atau tujuan yang akan di capai kelak.



















DAFTAR PUSTAKA


Al-Musawi, Khalil. 2000. Bagaimana Membangun Kepribadian Anda. Yokyakarta: Pustaka Pelajar
Fakhri, Majid. 1996. Etika Dalam Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Salam, Burhanuddin. 1997. Etika Sosial. Jakarta: PT, Rineka Cipta
Zubair, Achmad Charris. 1987. Kuliah Etika. Jakarta: Rajawali Press

PERSOALAN-PERSOALAN KONTEMPORER DENGAN PERSPEKTIF ETIKA SEBAGAI DISIPLIN BERHADAPAN DENGAN GERAK ZAMAN


MAKALAH
PERSOALAN-PERSOALAN KONTEMPORER DENGAN PERSPEKTIF ETIKA SEBAGAI DISIPLIN BERHADAPAN DENGAN GERAK ZAMAN
Di susun guna memenuhi tugas

Mata Kuliah                : Ilmu Akhlak

Dosen Pengampu        : Muhammad Ghufron, M.SI

Di susun oleh:
Kelas F

1.      Dzati Ismah                      2021 111 263
2.      Naila Chusniyyati             2021 111 264
3.      Rizqotul  Maula               2021 111 265
4.      Nur  Slamet                     2021 111 266

TARBIYAH /PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN 2011


DAFTAR  ISI
HALAMAN JUDUL……………………………………………………………………………..i
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………ii
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………………….1
BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………….……………….2
A.    Etika Sedang Naik Daun…………………………………………………………2
B.     Kenakalan Remaja dalam Perspektif Etika Islam…………………..5
BAB III KESIMPULAN………………………………………………………………………..8
DAFTAR PUSTAKA

























PENDAHULUAN

 Dalam era globalisasi dan perkembangan zaman ini.  Kerap kali muncul masalah-masalah dalam etika, dimana  masalah tersebut muncul akibat menurunnya nilai-nilai moral dalam masyarakat. Di antara masalah-masalah yang timbul salah satunya adalah masalah kenakalan remaja yang mana dari hari kehari makin meningkat saja
Dalam etika islam, kenakalan di nilai menyimpang dari moralitas dan merupakan perbuatan buruk yang seharusnya di hindari. Maka dari itu butuh perhatian yang lebih serta penanganan yang tepat dalam memeperbaiki tingkah laku para remaja ini, sehingga mereka bisa terselamatkan. Begitu pentingnya peranan pemuda dan pemudi bagi berkembangnya suatu Negara, karena mereka adalah salah satu penerus bangsa ini. Apa jadinya negeri bila penerusnya saja bermasalah , mesti butuh penyuluhan yang tepat bagi mereka dan salah satunya adalah dengan menanamkan nilai- nilai etika serta moralitas islami.



PEMBAHASAN
A.    Etika Sedang Naik Daun
Jika di pandang pada skala dunia, selama kira-kira tiga dasawarsa terakhir ini wajah filsafat moral berubah cukup radikal. Tidak bisa di sangkal, dalam situasi kita sekarang etika sedang naik daun. Hal ini terutama  tampak  dengan penampilannya sebagi etika terapan. Perubahan itu terutama mencolok di kawasan berbahasa Inggris, khususnya United Kingdom dan Amerika Serikat. Di situ pada awal abad ke-20 etika di praktekkan sebagai “metaetika”. Aliran pada filsafat moral ini menempatkan diri  pada tahap  lebih tinggi  dari pada membahas masalah-masalah etis. Mereka  tidak menyelidiki baik buruknya perbuatan-perbuatan manusia melainkan mengarahkan perhatiannya pada “bahasa moral” atau ungkapan kita untuk baik atau buruk.[1]

a.       Faktor  yang  Mempengaruhi
Di lihat secara  retrospektif, dapat kita katakan bahwa perubahan ini di sebabkan adanya beberapa factor yaitu yang  pertama, perkembangan pesat di bidang ilmu dan teknologi menimbulkan banyak persoalan yang etis besar, khususnya dalam ilmu-ilmu biomedis.
Yang kedua, adalah dalam masyarakat terciptanya akan “iklim moral” yang seolah-olah mengundang minat baru untuk etika.  Sebagai sebuah gejala yang menunjukkan iklim ini dapat kita sebut gerakan hak di berbagai bidang.
b.      Masalah-masalah yang Sedang Naik Daun
Etika terapan ataupun etika sedang naik daun ialah suatu istilah baru, tetapi sebetulnya yang di maksudkan dengannya sama sekali bukan hal baru dalam sejarah filsafat etika.  Sudah di tekankan bahwa etika  merupakan fisafat praktis, artinya, filsafat yang ingin memberikan penyuluhan kepada tingkah laku manusia dengan memperlihatkan apa yang seharusnya di lakukan.
c.       Cabang-cabang Etika Terapan
Untuk membagikan etika terapan yaitu dengan membedakan antara mikroetika dan makroetika. Makroetika ialah membahas masalah-masalah moral dalam skala besar, artinya, masalah-masalah ini menyangkut suatu bangsa seluruhnya atau bahkan seluruh umat manusia.  Misalnya mengenai masalah ekonomi dan keadilan (utang-utang Negara Utara dengan Selatan) ataupun dalam masalah lingkungan hidup, dan alokasi sarana pelayanan kesehatan dapat juga sebagai contoh masalah-masalah makroetika.[2]
Mikroetika membicarakan tentang pertanyaan-pertanyaan dimana individu terlibat, seperti kewajiban dokter kepada pasiennya. Dapat juga kewajiban seorang pengacara terhadap kliennya serta kewajiban mengatakan yang benar
d.      Akhlak dari Zaman ke Zaman
Ilmu akhlak dari zaman ke zaman adalah ilmu yang mempelajari akhlak berdasarkan waktu ke waktu yaitu mulai zaman nabi Adam hingga abad modern ini. Tiap-tiap zaman akhlaknya selalu berubah-ubah sesuai dengan keadaan diantaranya; pemerintahannya, agama dan keyakinannya, ilmu, kebudayaan, tempat tinggal, harta bendanya, kedudukan ,keberanian. Pengaruh-pengaruh tersebut berkembang sampai akhir zaman (kiamat).[3]



B.     Kenakalan Remaja dalam Perspektif Etika
Secara biologis, periode “pubertas” menunjukkan perubahan khusus bagi seoramg anak mempengaruhi perkembangan dan kematangan kedewasaan yang berarti pula mempengaruhi perkembangan fisik. Yang perlu di pahami adalah perubahan-perubahan tersebut terjadi dalam masa remaja (Adolesensi) yang menyebabkan remaja harus sanggup melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan.
            Diantara masalah-masalah yang menimbulkan turunnya moral dan etika seseorang tersebut terkait pengaruh dari perkembangan zaman salah satunya adalah mengenai masalah kenakalan remaja .[4]

a.       Pengertian Kenakalan Remaja
Menurut Drs.B.Simanjuntak,S.H pengertian dari “ juvenile delinquency” ialah suatu perbuatan itu di sebut delinquent apabila perbuatan-perbuatan tersebut bertentangan dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat di mana ia hidup. Sedangkan menurut Drs.Bimo Walgito merumuskan arti selengkapnya dari kenakalan remaja yakni, tiap-tiap perbuatan yang bila di lakukan oleh orang dewasa, maka perbuatan itu merupakan kejahatan, jadi perbuatan yang melawan hukum yang di lakukan oleh anak, khususnya anak remaja.
      Menurut pengertian  umum, kenakalan remaja adalah salah satu problem lama yang senantiasa muncul di tengah-tengah masyarakat.masalah tersebut hidup, berkembang dan membawa akibat tersendiri sepanjang masa. Seusia kelompok masyarakat manusia tersebut.[5]



b.      Sebab- sebab Kenakalan Remaja
a)      Keadaan keluarga
Pada hakikatnya keluargalah yang menyebabkan timbulnya kenakalan remaja atau anak bersifat kompleks. Kondisi tersebut dapat terjadi karena kelahiran anak di luar perkawinan yang syah menurut agama dan hukum. Disamping itu kenakalan remaja juga di sebabkan keadaan keluarga yang tidak normal, yang mencakup “broken home” .[6]
Kenakalan remaja dapat pula terjadi karena keadaan ekonomi keluarga, terutama menyangkut keluarga miskin atau keluarga yang menderita kekurangan jika di bandingkan dengan keadaan ekonomi penduduk pada umumnya. Bisa jadi orang tua yang cenderung, bahkan sangat memanjakan anak- anaknya, disamping itu juga mereka kurang memiliki bekal pengetahuan di dalam mendidik anak yang baik.

b)      Keadaan Sekolah
Berkaitan dengan kenakalan remaja, maka sekolahan merupakan sebagai ajang atau tempat pendidikan anak-anak dapat pula menjadi sumber terjadinya konflik-konflik kejiwaan sehingga memudahkan anak- anak menjadi delinkwuen. [7]
Dalam kenyataan sering terjadi perlakuan guru yang mencerminkan ketidakadilan. Kenyataan ini masih di temui adanya sangsi-sangsi yang sama sekali tidak menunjang tercapainya pendidikan. Keadaan sekolah tersebut di perberat lagi dengan adanya ancaman yang tidak ada putus-putusnya dan di sertai disiplin yang ketat dan kurang adanya interaksi yang akrab antara pendidik dengan murid serta kurangnya kesibukan belajar di rumah. Kondisi negatif di sekolah tersebut kerap kali memberi pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap anak, sehingga dapat menimbulkan  kenakalan anak atau remaja.


c)      Keadan Masyarakat
Keadan masyarakat dan kondisi lingkungan dalam berbagai corak dan bentuknya akan berpengaruh terhadap anak-anak remaja di mana mereka hidup berkelompok. Pada dasarnya kemiskinan mengakibatkan bahaya besar bagi jiwa  untuk melakukan sebab adanya perbedaan yang sangat mencolok tersebut akan mempengaruhi kestabilan mental manusia di dalam hidupnya.  Tidak jarang anak–anak remaja yang berasal dari keluarga miskin yang memiliki perasaan rendah diri sehingga terdorong untuk melakukan kejahatan terhadap hak milik orang lain, seperti: pencurian, penipuan, penggelapan, pengrusakan dan penggedoran.[8]

c.       Masalah Etis yang Muncul
Dan akibat dari kenakalan remaja ini, di samping merugikan diri sendiri juga dapat merugikan orang lain. Ditinjau secara integral; penelitian secara menyeluruh dalam segala aspek pokoknya, akhirnya muncul beberapa indikasi bahwa delinkwensi anak-anak merupakan salah satu problem sosial. Perwujudan dari problem sosial tersbut antara lain: pencurian, penipuan, perzinaan, pemerasan dan perbuatan-perbuatan kekerasan seperti pertengkaran atau perkelahian, penggedoran dan pemerkosaan.

d.      Kenakalan Remaja dalam Sorotan Islam
Tedapat suatu indikasi, jika anak- anak remaja telah mampu memahami ajaran agama islam dengan baik dan telah menjadikan “keimanan” sebagai integral dari kepribadiannya, maka keimanan itulah yang akan mengawasi segala tindakan, perbuatan dan kondisi emosional.
Hal ini berarti jika penyalahgunaan narkotika dapat menimbulkan perbuatan jahat yang di larang oleh agama antara lain (membunuh, mencuri, merampok dan perzinaan), maka penyalahgunaan narkotika dapat di pandang sebagai kejahatan agama islam.
Sebagai konsekuensinya dapat di ambil pengertian: anak- anak remaja yang memiliki keimanan, maka dorongan nafsu untuk berbuat jahat selalu akan di gagalkan oleh keimanannya.

e.       Dampak Sosial Bagi Generasi Berikutnya
Dampak kenakalan remaja ini sangat mempengaruhi generasi muda penerusnya. Selain sebagai penerus bangsa ia juga contoh generasi selanjutnya untuk mengantarkan kepada kebaikan dan mengajarkan sifat moral dan beretika.
      Kejahatan-kejahatan dan pelanggaran-pelanggaran yang di lakukan anak-anak remaja di tengah masyarakat yang dapat menghilangkan kebahagiaan umat, disamping berlawanan dengan hakikat kemaslahatan umum dan ketentraman hidup.

f.       Solusi Penanganan Kenakalan Remaja
Di dunia. Dengan demikian akan mencegah terjadinya “juvenile Delinquency”, sebab pembinaan akhlak berarti bahwa anak remaja di tuntun agar belajar memiliki rasa tanggung jawab.[9]
Bahwa ia telah mengerti  tentang perbedaan antara yang benar dan yang salah, yang boleh dan yang di larang, baik dan yang buruk, dan ia sadar bahwa ia harus menjauhi segala yang bersifat negatif dan mencoba membina diri untuk menggunakan hal-hal yang positif.
           











KESIMPULAN
            Manusia pada dasarnya dalam perspektif etika adalah sebagai “ummatun waahidatun”; kelompok  yang bersatu padu dalam kesatuan atau entitas yang utuh. Kesatu-paduan tersebut secara islami memiliki sendi-sendi yang kokoh dengan landasan pertanggungjawaban secara vertikal. Kenakalan remaja dalam berbagai bentuknya menjadi salah satu perusak sendi-sendi kokoh tersebut. Pada hakikatnya, kejahatan-kejahatan dan pelanggaran-pelanggaran yang di lakukan oleh anak remaja menimbulkan ketidakharmonisan interaksi sosial dan menghilangkan “sense of soladaritas”. Lebih jauh dan mendalam, kenakalan remaja dapat di pandang sebagai wujud perbuatan yang tidak manusiawi.
















Dafrar Pustaka
 Abdullah, M Yatim. 2007. Studi akhlak dalam Perspektif AL-Qur’an. Jakarta. Amzah
Bertens, K. 1993. Etika. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Djatnika, Rahmat. 1992. Sitem Ethika Islami Akhlak Mulia. Jakarta: Pustaka Panjimas
Fakhry, Majid. 1996. Etika dalam Islam. Yogyakarta: Pystaka Pelajar
Sudarsono. 1986. Etika Islam Tentang Kenakalan Remaja. Jakarta: PT. Rineka Cipta