Social Icons

Pages

22 Nov 2011

PERSOALAN-PERSOALAN KONTEMPORER DENGAN PERSPEKTIF ETIKA SEBAGAI DISIPLIN BERHADAPAN DENGAN GERAK ZAMAN


MAKALAH
PERSOALAN-PERSOALAN KONTEMPORER DENGAN PERSPEKTIF ETIKA SEBAGAI DISIPLIN BERHADAPAN DENGAN GERAK ZAMAN
Di susun guna memenuhi tugas

Mata Kuliah                : Ilmu Akhlak

Dosen Pengampu        : Muhammad Ghufron, M.SI

Di susun oleh:
Kelas F

1.      Dzati Ismah                      2021 111 263
2.      Naila Chusniyyati             2021 111 264
3.      Rizqotul  Maula               2021 111 265
4.      Nur  Slamet                     2021 111 266

TARBIYAH /PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN 2011


DAFTAR  ISI
HALAMAN JUDUL……………………………………………………………………………..i
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………ii
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………………….1
BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………….……………….2
A.    Etika Sedang Naik Daun…………………………………………………………2
B.     Kenakalan Remaja dalam Perspektif Etika Islam…………………..5
BAB III KESIMPULAN………………………………………………………………………..8
DAFTAR PUSTAKA

























PENDAHULUAN

 Dalam era globalisasi dan perkembangan zaman ini.  Kerap kali muncul masalah-masalah dalam etika, dimana  masalah tersebut muncul akibat menurunnya nilai-nilai moral dalam masyarakat. Di antara masalah-masalah yang timbul salah satunya adalah masalah kenakalan remaja yang mana dari hari kehari makin meningkat saja
Dalam etika islam, kenakalan di nilai menyimpang dari moralitas dan merupakan perbuatan buruk yang seharusnya di hindari. Maka dari itu butuh perhatian yang lebih serta penanganan yang tepat dalam memeperbaiki tingkah laku para remaja ini, sehingga mereka bisa terselamatkan. Begitu pentingnya peranan pemuda dan pemudi bagi berkembangnya suatu Negara, karena mereka adalah salah satu penerus bangsa ini. Apa jadinya negeri bila penerusnya saja bermasalah , mesti butuh penyuluhan yang tepat bagi mereka dan salah satunya adalah dengan menanamkan nilai- nilai etika serta moralitas islami.



PEMBAHASAN
A.    Etika Sedang Naik Daun
Jika di pandang pada skala dunia, selama kira-kira tiga dasawarsa terakhir ini wajah filsafat moral berubah cukup radikal. Tidak bisa di sangkal, dalam situasi kita sekarang etika sedang naik daun. Hal ini terutama  tampak  dengan penampilannya sebagi etika terapan. Perubahan itu terutama mencolok di kawasan berbahasa Inggris, khususnya United Kingdom dan Amerika Serikat. Di situ pada awal abad ke-20 etika di praktekkan sebagai “metaetika”. Aliran pada filsafat moral ini menempatkan diri  pada tahap  lebih tinggi  dari pada membahas masalah-masalah etis. Mereka  tidak menyelidiki baik buruknya perbuatan-perbuatan manusia melainkan mengarahkan perhatiannya pada “bahasa moral” atau ungkapan kita untuk baik atau buruk.[1]

a.       Faktor  yang  Mempengaruhi
Di lihat secara  retrospektif, dapat kita katakan bahwa perubahan ini di sebabkan adanya beberapa factor yaitu yang  pertama, perkembangan pesat di bidang ilmu dan teknologi menimbulkan banyak persoalan yang etis besar, khususnya dalam ilmu-ilmu biomedis.
Yang kedua, adalah dalam masyarakat terciptanya akan “iklim moral” yang seolah-olah mengundang minat baru untuk etika.  Sebagai sebuah gejala yang menunjukkan iklim ini dapat kita sebut gerakan hak di berbagai bidang.
b.      Masalah-masalah yang Sedang Naik Daun
Etika terapan ataupun etika sedang naik daun ialah suatu istilah baru, tetapi sebetulnya yang di maksudkan dengannya sama sekali bukan hal baru dalam sejarah filsafat etika.  Sudah di tekankan bahwa etika  merupakan fisafat praktis, artinya, filsafat yang ingin memberikan penyuluhan kepada tingkah laku manusia dengan memperlihatkan apa yang seharusnya di lakukan.
c.       Cabang-cabang Etika Terapan
Untuk membagikan etika terapan yaitu dengan membedakan antara mikroetika dan makroetika. Makroetika ialah membahas masalah-masalah moral dalam skala besar, artinya, masalah-masalah ini menyangkut suatu bangsa seluruhnya atau bahkan seluruh umat manusia.  Misalnya mengenai masalah ekonomi dan keadilan (utang-utang Negara Utara dengan Selatan) ataupun dalam masalah lingkungan hidup, dan alokasi sarana pelayanan kesehatan dapat juga sebagai contoh masalah-masalah makroetika.[2]
Mikroetika membicarakan tentang pertanyaan-pertanyaan dimana individu terlibat, seperti kewajiban dokter kepada pasiennya. Dapat juga kewajiban seorang pengacara terhadap kliennya serta kewajiban mengatakan yang benar
d.      Akhlak dari Zaman ke Zaman
Ilmu akhlak dari zaman ke zaman adalah ilmu yang mempelajari akhlak berdasarkan waktu ke waktu yaitu mulai zaman nabi Adam hingga abad modern ini. Tiap-tiap zaman akhlaknya selalu berubah-ubah sesuai dengan keadaan diantaranya; pemerintahannya, agama dan keyakinannya, ilmu, kebudayaan, tempat tinggal, harta bendanya, kedudukan ,keberanian. Pengaruh-pengaruh tersebut berkembang sampai akhir zaman (kiamat).[3]



B.     Kenakalan Remaja dalam Perspektif Etika
Secara biologis, periode “pubertas” menunjukkan perubahan khusus bagi seoramg anak mempengaruhi perkembangan dan kematangan kedewasaan yang berarti pula mempengaruhi perkembangan fisik. Yang perlu di pahami adalah perubahan-perubahan tersebut terjadi dalam masa remaja (Adolesensi) yang menyebabkan remaja harus sanggup melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan.
            Diantara masalah-masalah yang menimbulkan turunnya moral dan etika seseorang tersebut terkait pengaruh dari perkembangan zaman salah satunya adalah mengenai masalah kenakalan remaja .[4]

a.       Pengertian Kenakalan Remaja
Menurut Drs.B.Simanjuntak,S.H pengertian dari “ juvenile delinquency” ialah suatu perbuatan itu di sebut delinquent apabila perbuatan-perbuatan tersebut bertentangan dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat di mana ia hidup. Sedangkan menurut Drs.Bimo Walgito merumuskan arti selengkapnya dari kenakalan remaja yakni, tiap-tiap perbuatan yang bila di lakukan oleh orang dewasa, maka perbuatan itu merupakan kejahatan, jadi perbuatan yang melawan hukum yang di lakukan oleh anak, khususnya anak remaja.
      Menurut pengertian  umum, kenakalan remaja adalah salah satu problem lama yang senantiasa muncul di tengah-tengah masyarakat.masalah tersebut hidup, berkembang dan membawa akibat tersendiri sepanjang masa. Seusia kelompok masyarakat manusia tersebut.[5]



b.      Sebab- sebab Kenakalan Remaja
a)      Keadaan keluarga
Pada hakikatnya keluargalah yang menyebabkan timbulnya kenakalan remaja atau anak bersifat kompleks. Kondisi tersebut dapat terjadi karena kelahiran anak di luar perkawinan yang syah menurut agama dan hukum. Disamping itu kenakalan remaja juga di sebabkan keadaan keluarga yang tidak normal, yang mencakup “broken home” .[6]
Kenakalan remaja dapat pula terjadi karena keadaan ekonomi keluarga, terutama menyangkut keluarga miskin atau keluarga yang menderita kekurangan jika di bandingkan dengan keadaan ekonomi penduduk pada umumnya. Bisa jadi orang tua yang cenderung, bahkan sangat memanjakan anak- anaknya, disamping itu juga mereka kurang memiliki bekal pengetahuan di dalam mendidik anak yang baik.

b)      Keadaan Sekolah
Berkaitan dengan kenakalan remaja, maka sekolahan merupakan sebagai ajang atau tempat pendidikan anak-anak dapat pula menjadi sumber terjadinya konflik-konflik kejiwaan sehingga memudahkan anak- anak menjadi delinkwuen. [7]
Dalam kenyataan sering terjadi perlakuan guru yang mencerminkan ketidakadilan. Kenyataan ini masih di temui adanya sangsi-sangsi yang sama sekali tidak menunjang tercapainya pendidikan. Keadaan sekolah tersebut di perberat lagi dengan adanya ancaman yang tidak ada putus-putusnya dan di sertai disiplin yang ketat dan kurang adanya interaksi yang akrab antara pendidik dengan murid serta kurangnya kesibukan belajar di rumah. Kondisi negatif di sekolah tersebut kerap kali memberi pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap anak, sehingga dapat menimbulkan  kenakalan anak atau remaja.


c)      Keadan Masyarakat
Keadan masyarakat dan kondisi lingkungan dalam berbagai corak dan bentuknya akan berpengaruh terhadap anak-anak remaja di mana mereka hidup berkelompok. Pada dasarnya kemiskinan mengakibatkan bahaya besar bagi jiwa  untuk melakukan sebab adanya perbedaan yang sangat mencolok tersebut akan mempengaruhi kestabilan mental manusia di dalam hidupnya.  Tidak jarang anak–anak remaja yang berasal dari keluarga miskin yang memiliki perasaan rendah diri sehingga terdorong untuk melakukan kejahatan terhadap hak milik orang lain, seperti: pencurian, penipuan, penggelapan, pengrusakan dan penggedoran.[8]

c.       Masalah Etis yang Muncul
Dan akibat dari kenakalan remaja ini, di samping merugikan diri sendiri juga dapat merugikan orang lain. Ditinjau secara integral; penelitian secara menyeluruh dalam segala aspek pokoknya, akhirnya muncul beberapa indikasi bahwa delinkwensi anak-anak merupakan salah satu problem sosial. Perwujudan dari problem sosial tersbut antara lain: pencurian, penipuan, perzinaan, pemerasan dan perbuatan-perbuatan kekerasan seperti pertengkaran atau perkelahian, penggedoran dan pemerkosaan.

d.      Kenakalan Remaja dalam Sorotan Islam
Tedapat suatu indikasi, jika anak- anak remaja telah mampu memahami ajaran agama islam dengan baik dan telah menjadikan “keimanan” sebagai integral dari kepribadiannya, maka keimanan itulah yang akan mengawasi segala tindakan, perbuatan dan kondisi emosional.
Hal ini berarti jika penyalahgunaan narkotika dapat menimbulkan perbuatan jahat yang di larang oleh agama antara lain (membunuh, mencuri, merampok dan perzinaan), maka penyalahgunaan narkotika dapat di pandang sebagai kejahatan agama islam.
Sebagai konsekuensinya dapat di ambil pengertian: anak- anak remaja yang memiliki keimanan, maka dorongan nafsu untuk berbuat jahat selalu akan di gagalkan oleh keimanannya.

e.       Dampak Sosial Bagi Generasi Berikutnya
Dampak kenakalan remaja ini sangat mempengaruhi generasi muda penerusnya. Selain sebagai penerus bangsa ia juga contoh generasi selanjutnya untuk mengantarkan kepada kebaikan dan mengajarkan sifat moral dan beretika.
      Kejahatan-kejahatan dan pelanggaran-pelanggaran yang di lakukan anak-anak remaja di tengah masyarakat yang dapat menghilangkan kebahagiaan umat, disamping berlawanan dengan hakikat kemaslahatan umum dan ketentraman hidup.

f.       Solusi Penanganan Kenakalan Remaja
Di dunia. Dengan demikian akan mencegah terjadinya “juvenile Delinquency”, sebab pembinaan akhlak berarti bahwa anak remaja di tuntun agar belajar memiliki rasa tanggung jawab.[9]
Bahwa ia telah mengerti  tentang perbedaan antara yang benar dan yang salah, yang boleh dan yang di larang, baik dan yang buruk, dan ia sadar bahwa ia harus menjauhi segala yang bersifat negatif dan mencoba membina diri untuk menggunakan hal-hal yang positif.
           











KESIMPULAN
            Manusia pada dasarnya dalam perspektif etika adalah sebagai “ummatun waahidatun”; kelompok  yang bersatu padu dalam kesatuan atau entitas yang utuh. Kesatu-paduan tersebut secara islami memiliki sendi-sendi yang kokoh dengan landasan pertanggungjawaban secara vertikal. Kenakalan remaja dalam berbagai bentuknya menjadi salah satu perusak sendi-sendi kokoh tersebut. Pada hakikatnya, kejahatan-kejahatan dan pelanggaran-pelanggaran yang di lakukan oleh anak remaja menimbulkan ketidakharmonisan interaksi sosial dan menghilangkan “sense of soladaritas”. Lebih jauh dan mendalam, kenakalan remaja dapat di pandang sebagai wujud perbuatan yang tidak manusiawi.
















Dafrar Pustaka
 Abdullah, M Yatim. 2007. Studi akhlak dalam Perspektif AL-Qur’an. Jakarta. Amzah
Bertens, K. 1993. Etika. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Djatnika, Rahmat. 1992. Sitem Ethika Islami Akhlak Mulia. Jakarta: Pustaka Panjimas
Fakhry, Majid. 1996. Etika dalam Islam. Yogyakarta: Pystaka Pelajar
Sudarsono. 1986. Etika Islam Tentang Kenakalan Remaja. Jakarta: PT. Rineka Cipta





9 Nov 2011

MAKALAH PERADABAN ISLAM INDONESIA PASCA KEMERDEKAAN



MAKALAH
PERADABAN ISLAM INDONESIA PASCA KEMERDEKAAN
Makalah ini disusun  guna memenuhi tugas
Mata Kuliah     : SPI ( Sejarah Peradaban Islam )
Dosen Pengampu :  Jumailah, M.S.I

Disusun oleh :
1.      Edward Muslim       ( 2021 111 236 )
2.      AnaMishatun Janah ( 2021 111 237 )
3.      Laila Zulfa               ( 2021 111 238 )
4.      Ika Korena Rudito   ( 2021 111 239 )

Kelas : F
TARBIYAH / PAI
Sekolah tinggi AGAMA ISLAM NEGERI(STAIN)
PEKALONGAN
2011
BAB I

PENDAHULUAN

Dalam peradaban islam  pada zaman sekarang telah mengalami  masa-masa perubahan yang sangat meningkat,terutama dalam manifestasi-manifestasi kemajuan teknis. Dengan tujuan manifestasi cara berpikir dan merasa untuk mempraktiskan dan memberi kesenangan dalam kehidupan. Peradaban islam sesudah kemerdekaan di indonesia ini telah memberikan banyak perubahan misalnya sepertimendirikan departemen agama, Lembaga pendidikan, dan lembaga-lembaga islam lainnya. Semua lembaga ini masih berdiri kokoh serta bermanfaat bagi seluruh masyarakat yang bertujuan untuk memudahkan dan mensejahterakan kehidupan. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan membahas sedikit tentang masalah perubahan yang ada di peradaban islam sesudah kemerdekaan.













BAB II
PEMBAHASAN
A.    Islam Indonesia Dalam Masa Revolusi
Pada masa revolusi, Islam politik melupakan sejenak perjuangan menegakkan negara Islam.Pada masa ini, semua kekuatan rakyat Indonesia bersatu untuk melawan kembalinya Belanda. Namun demikian, umat Islam juga tidak melupakan penegakan kehidupan bernegara yang baik.Untuk itu, umat Islam membentuk partai politik guna mendukung sistem pemerintahan demokratis di Indonesia dan guna memudahkan umat Islam dalam menyampaikan aspirasinya serta memudahkan penyatuan umat Islam dalam mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Untuk merealisasikan tujuan-tujuan di atas dibentuklah partai politik Masjumi.Masjumi dibentuk dalam Muktamar Islam Indonesia di Gedung Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah, Yogyakarta, tanggal 7-8 November 1945.
Dalam muktamar tersebut diputuskan bahwa Masjumi adalah satu-satunya partai politik Islam di Indonesia, dan Masjumi lah yang akan memperjuangkan nasib politik umat Islam Indonesia. Dengan keputusan ini, keberadaan partai politik Islam yang lain tidak diakui.169 Dengan adanya satu partai politik Islam diharapkan cita-cita Islam menjadi mudah untuk direalisasikan. Partai ini mendapat dukungan yang luar biasa dari para ulama, modernis dan tradisionalis, di samping dari pemimpin-pemimpin umat non-ulama Jawa- Madura.Pemimpin-pemimpin umat dari luar Jawa juga berdiri sepenuhnya di belakang partai baru ini, sekalipun mereka tidak dapat menghadiri Kongres di Yogyakarta karena sulitnya transportasi antarpulau pada waktu itu.Masjumi mewakili kepentingan-kepentingan politik umat Islam. Dalam Anggaran Dasar Masjumi ditegaskan bahwa “tujuan partai ialah terlaksananya ajaran dan hukum Islam di dalam kehidupan orang seorang, masyarakat, dan negara Republik Indonesia, menuju keridhaan Illahi”.

1.      Departemen Agama
Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, para pemimpin rakyat Indonesia sepakat untuk menerapkan bentuk republik dalam pemerintahan Indonesia (proses akhirnya).Dan pemerintahannya di dasarkan atas asas pancasila dan UUD 1945.
    Sila-sila dalam pancasila itu sendiri, jika dikaitkan dengan ajaran syariat islam akan ditemukan kesamaannya dalam al-Qur’an sebagai sumber utama umat islam telah mengemukakan dengan jelas yang kaitannya dengan pancasila.
     Dalam struktur  pemerintahan Republik Indonesia dibentuk Departemen Agama (dulu namanya Kementrian Agama). Yang pertama kalinya didirikan pada masa kabinet Syahrir sampai sekarang menteri agamanya masih dipegang oleh seorang muslim. Kepala Negara dan menterinya mayoritas dari kaum muslimin.

2.      Pendidikan

       Setelah Indonesia merdeka, terutama setelah berdirinya Departemen Agama, persoalan pendidikan agama islam mulai mendapat perhatian lebih serius. Badan Pekerja Komite Nasional Pusat dalam bulan Desember 1945 menganjurkan agar pendidikan madrasah diteruskan.Badan ini juga mendesak pemerintah agar memberikan bantuan kepada madrasah. Departemen Agama dengan segera membentuk seksi khusus yang bertugas menyusun pelajaran dan pendidikan agama Islam dan Kristen, mengawasi pengangkatan guru-guru agama,dan mengawasi pendidikan agama. Pada tahun 1946, Departemen Agama mengadakan latihan 90 guru agama, 45 orang di antaranya kemudian diangkat sebagai guru agama. Pada tahun 1948, didirikanlah sekolah guru dan hakim di Solo.
        Haji Mahmud Yunus, seorang lulusan Kairo yang di zaman Belanda memimpin Sekolah Normal Islam di Padang, menyusun rencana pembangunan pendidikan Islam. Ketika itu mengepalai seksi Islam dari Kantor Agama Propinsi.Dalam rencananya, ibtidaiyah selama 6 tahun, tsanawiyah pertama 4 tahun dan tsanawiyah atas 4 tahun.Gagasannya ini dilaksakan di Lampung (waktu itu karesidenan) tahun 1948.Sementara itu, Aceh menyelenggarakan rencananya sendiri.Banyak sekolah-sekolah swasta di daerah ini dijadikan negeri, sekurang-kurangnya memperoleh subsidi dari pemerintahan.Mahmud Yunus juga menyarankan agar pelajaran agama diberikan di sekolah-sekolah “umum” yang disetujui oleh konperensi pendidikan se-Sumatera di Padang Panjang, 2-10 Maret 1947.

3.      Hukum Islam

Lembaga Islam yang penting yang ditangani oleh Departemen Agama adalah hukum atau syariat.Pengadilan Islam di Indonesia membatasi dirinya pada soal-soal hukum muamalat yang bersifat pribadi.Hukum muamalat pun terbatas pada masalah nikah, cerai dan rujuk (faraidh), wakaf, hibah, dan sangat baitul mal.
Keberadaan lembaga peradilan agama di masa Indonesia merdeka adalah kelanjutan dari masa kolonial Belanda.
Kemantapan posisi hukum Islam dalam sistem hukum nasional semakin meningkat setelah Undang-Undang Peradialan Agama ditetapkan tahun 1989.Undang-Undang Peradilan Agama ini merupakan kelengkapan dari UU No. 14/1970 tentang ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan kehakiman. Dalam pasal 10 ayat (1) UU No. 14/1970 disebutkan: “kekuasaan kehakiman dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan: (a) Peradilan Umum, (b) Peradilan Agama, (c) Peradilan Militer, (d) Peradilan Tata Usaha Negara. Sebagai suatu undang-undang lain untuk mengatur empat lingkungan peradilan yang diundangkan dalam UU itu, antara lain UU tentang Peradilan Agama.

4.      Haji

Indonesia termasuk negeri yang banyak mengirim jamaah haji.Di masa penjajahan tahun kemuncak ialah tahun 1926/1927 ketika sekitar 52.000 orang pergi ke Mekah.Sungguhpun angka itu baru pada tahun-tahun terakhir terlewati, tetapi umumnya dalam keadaan biasa jumlah jamaah meningkat cepat karena memang keinginan menunaikan ibadah haji semakin kuat.Angka tertinggi sampai tahun 1992, yaitu sekitar 107.000 orang jamaah haji Indonesia diberangkatkan.
Sejak awal tahun 1970-an, banyak para pejabat tinggi pemerintah, termasuk menteri, yang tidak ketinggalan berangkat ke tanah suci.Bahkan dari kalangan merekalah amir al-hajj (pemimpin jamaah haji) Indonesia ditunjuk.
      Semenjak zaman penjajahan Belanda, umat islam Indonesia ingin mempunyai kapal laut untuk dipergunakan dalam penyelenggraan perjalanan haji. Iuran dikumpulkan, saham diedarkan, tetapi selama zaman jajahan keinginan ini tidak terwujud.Setelah Indonesia merdeka, usaha ini dilanjutkan.Pada tahun 1950 sebuah yayasan, yaitu Yayasan Perjalanan Haji Indonesia, didirikan di Jakarta.Pemerintah memberikan kuasa kepada Yayasan itu untuk menyelenggarakan perjalanan haji. Sebuah bank, Bank Haji Indonesia, dan sebuah perusahan kapal, Perlayaran Muslimin Indonesia (MUSI) didirikan. Tetapi sepuluh tahun kemudian perusahaan MUSI ini masih saja bertindak  sebagai agen dalam mencarter kapal dari perusahaan asing; MUSI tidak mempunyai kapal sendiri. Cara ini ditempuh sampai tahun 1962, ketika MUSI dibekukan oleh pemerintah, mungkin sekali karena pertimbangan politik.Setahun sebelumnya, pada tahun 1961, Petugas Haji Indonesia (PHI) yang bertugas memberikan kemudahan-kemudahan naik haji, juga dibubarkan karena banyak anggota PHI adalah anggota masyumi, partai yang telah dibubarkan.
                                                                                  
5.      Majelis Ulama Indonesia

      Disamping Departemen Agama, cara lain pemerintah Indonesia dalam menyelenggarakan administrasi Islam ialah mendirikan Majelis Ulama. Suatu program pemerintah, apalagi yang berkenaan dengan agama hanya bisa berhasil dengan baik bila disokong oleh ulama.Karena itu kerjasama antara pemerintah dan ulama perlu terjalin dengan baik.Pertama kali majelis ulama didirikan pada masa pemerintahan SMajelis ini pertama-tama berdiri di daerah-daerah karena diperlukan untoekarno.uk menjamin keamanan. Di jawa barat berdiri pada tanggal 12 Juli 1958, diketuai oleh seorang panglima militer. Setelah keamanan sudah pulih dari pemberontakan DI-TII tahun 1961,Majelis Ulama ini bergerak dalam kegiatan-kegiatan di luar persoalan keamanan, seperti dakwah dan pendidikan.
      Dalam Pedoman Dasar Majelis Ulama Indonesia yang disah kan dalam kongres tersebut, disebutkan bahwa Majelis Ulama Indonesia berfungsi:
1.      Memberi fatwa dan nasihat mengenai masalah keagamaan dan  kepadapemerintah dan umat Islam umumnya sebagai amar ma’ruf nahi mungkar, dalam usaha meningkatkan ketahanan nasional.
2.      Mempererat ukhuwah islamiyah dan memelihara serta meningkatkan suasana kerukunan antar umat beragama dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.
3.      Mewakili islam dalam konsultasi antar umat beragama.
4.      Penghubung antra ulama dan umara (pemerintah) serta menjadi penerjemah timbal balik antara pemerintah dan umat guna menyukseskan pembangunan nasional.



B.     Peran Islam dalam Kemerdekaan
            Agama Islam ternyata begitu kokoh tertanam dalam nurani bangsa Indonesia, sehingga semangat perjuangan mereka, khususnya para pahlawan kita tidak pernah pudar sedikitpun sampai titik darah penghabisan.

Islam telah mendidik karakter bangsa Indonesia menjunjung tinggi kebenaran, kejujuran dan kesucian. Karena itu jika kaum penjajah berani menghancurkan kebenaran dan kejujuran, serta berani menodai kesucian, mereka akan membelanya pantang menyerah. Islam juga mendidik karakter bangsa Indonesia kayakinan akan adanya hidup di balik maqam, keyakinan dan adanya ancaman keburukan serta balasan atas kebaikan. Maka untuk membela kebenaran mereka bersedia berjihad di jalan Allah. Demikian pula Islam juga mendidik karakter: “Jika engkau menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (Q.S. Muhammad:47)
Perlu diketahui bahwa perjuangan membela kebenaran, menegakkan perikemanusiaan dan perikeadilan termasuk menolong agama Allah. Sungguh, begitu besar jasa Islam di masa lalu, maka kepada para penulis sejarah hendaklah tidak mengecilkan peran umat Islam di nusantara ini, sehingga para generasi penerus tidak buta terhadap peran Islam dan umatnya tersebut.
Setelah 66 tahun kemerdekaan negeri ini, adalah sebuah kepatutan bagi umat Islam Indonesia untuk mengambil peran besar dalam pembangunan ini seperti besarnya umat Islam di masa lalu. Sebab jika peran kita lebih besar, kita akan mampu menentukan arah pembangunan yang lebih manusiawi, hingga insyaallah dapat melepaskan diri dari penyakit peradaban kita yakni KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepostisme).[1]
C.     Peradaban Islam dan Negara Pancasila
Nasionalisme merupakan tali pengikat yang kuat, yakni paham yang menyatakan bahwa kesetiaan individu harus diserahkan kepada negara kebangsaan, sebagai ikatan yang erat terhadap tumpah darahnya. Keinginan untuk bersatu, persamaan nasib akan melahirkan rasa nasionalitas yang berdampak pada munculnya kepercayaan diri, rasa yang amat diperlukan untuk mempertahankan diri dalam perjuangan menempuh suatu keadaan yang lebih baik. Dua faktor penyebab munculnya nasionalisme, yaitu faktor intern dan ekstern.Faktor pertama sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap penjajah yang menimbulkan perlawanan rakyat dalam bentuk pemberontakan atau peperangan.Sedang faktor kedua sebagai renaissance yang dianggap simbol kepercayaan atas kemampuan diri sendiri.
Selain kondisi bangsa Indonesia berada dalam dominasi politik, militer dan ekonomi bangsa-bangsa asing, nasionalisme Natsir muncul atas dorongan ajaran agama yang diyakininya yang mewajibkan kepada setiap Muslim untuk mencintai tanah airnya.Karena itu, nasionalisme merupakan bagian dari Islam yang selalu mengajarkan agar mengenal kebudayaan dan bangsa-bangsa lain tanpa menanggalkan pribadinya sebagai Muslim. Inilah yang dimaksud nasionalisme Islami, yaitu orang-orang yang tetap komitmen pada pandangan bahwa negara dan masyarakat harus diatur oleh Islam sebagai agama yang, -dalam arti luas-, bukan hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, melainkan juga hubungan antara sesama manusia, sikap manusia terhadap lingkungannya, alam dan lain-lain sebagainya. Sementara nasilonalis sekuler sebaliknya, yakni tanpa perhatian melihat keterpautannya dengan agama.
Wajar jika nasionalisme dan Islamisme selalu hadir berdampingan dalam sejarah bangsa Indonesia, bahkan selama masa penjajahan, agama menjadi aspek yang menegaskan perjuangan nasional. Selain organisasi-organisasi nasional, seperti Jong Java, Jong Islamieten Bond, Jong Batak, Jong Ambon dan lainnya, tidak sedikit gerakan-gerakan yang berasaskan ke-Islam-an banyak yang tampil menjadi pelopor dan penggerak bangkitnya nasionalisme. Artinya kekuatan nasionalisme an Islamisme melebur menjadi satu dalam memerangi segala bentuk penjajahan.Bahkan dalam sejarah Indonesia, keduanya menjadi kekuatan besar yang terpadu dalam merebut kemerdekaan Indonesia.
Bahkan pergerakan organisasi keagamaan sejak awal telah memiliki kesadaran kebangsaan dan nasionalisme.Wadah-wadah seperti NU, Muhammadiyah, Persis, al-Wasliyah, dan lainnya telah berhasil menyingkirkan sifat kepulauan dan keprovinsian.Organisasi ini memulai gerakannya dengan menanamkan persaudaraan antar sesama rakyat yang berada di luar batas Indonesia dengan ikatan ke-Islam-an. Karena itu, ikatan persaudaraan yang melewati lintas etnik, budaya, politik tersebut terus dipertahankan secara konsisten.Sebab, persaudaraan yang diikat oleh kesadaran keagamaan ini menjadi benih-benih tumbuhnya sikap nasionalsime dan kesadaran mempertahankan NKRI.
Kaitannya hubungan antara Islam dan negara, pemikiran Natsir berorientasi pada paradigma integralistik; yaitu penyatuan antara agama dan negara secara utuh.Artinya, dirinya menentang gagasan yang lebih menyukai pemisahan antara agama dan negara (sekularistik).Uraian kenegaraan menurutnya menjadi satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Islam.Karena itu, tujuan terbentuknya suatu negara adalah untuk melaksanakan undang-undang Ilahi, baik yang berkenaan dengan kehidupan individu maupun sosial.Natsir tidak menentukan model negara yang dikehendaki oleh Islam, sebab bentuk negara menurutnya merupakan urusan keduniaan.Karena itu, manusia memiliki kebebasan menentukan model suatu negara yang hendak dibentuknya.Monarki boleh, republikpun tidak dilarang.Ia lebih menekankan pada sisi aplikasi penyelenggaraan suatu negara. Namun ketika mengusulkan ide-idenya, kelihatannya ia lebih cenderung pada bentuk negara republik ketimbang monarki. Hal ini dapat dilihat dari pemikirannya mengenai demokrasi, penekanannya terhadap sistem syura (musyawarah) dalam proses pengambilan keputusan, yang tampak lebih dominan[2]











BAB III
PENUTUP
Organisasi-organisasi sosial keagamaan Islam danorganisasi-organisasi yang didirikan kaum terpelajar baru, menandakan tumbuhnya benih- benih nasionalisme dalam pengertian modern.Peradaban-peradaban Islam sebelum kemerdekaan adalah birokrasi keagamaan, ulamadan ilmu-ilmu pengetahuan, dan arsitek bangunan. Sedangkan peradaban Islam setelahkemerdekaan adalah Departemen Agama, Pendidikan, hukum Islam, haji, dan Majelis UlamaIndonesia (MUI)

















DAFTAR  PUSTAKA
·         http://www.lontar.ui.ac.id/file?file=digital/132757-T%2027807-Islam%20kultural-Metodologi.pdf
·         http://www.surabayapagi.com/index.php?3b1ca0a43b79bdfd9f9305b81298296285aecf62d8e99ce48f909b4e6fc830f5







http://www.surabayapagi.com/index.php?3b1ca0a43b79bdfd9f9305b81298296285aecf62d8e99ce48f909b4e6fc830f5
[2]file:///H:/spi/Nasionalisme,%20PANCASILA,%20DAN%20ISLAM%20SEBAGAI%20DASAR%20NEGARA%20KESATUAN%20RI.htm